12 comments 146 views

Politik Kekinian dan Partisipasi Generasi Z

Akhir-akhir ini politik Indonesia sangat dekat dengan politik pencitraan, politik identitas. Politik Indonesia cenderung menampilkan isu SARA sebagai senjata politik. Jejak politik Indonesia sudah membenarkan hal ini. Dalam diskusi tentang “Apakah Politik Identitas Masih Relevan dalam Kampanye Pemilu 2024 di Media Sosial?” yang dilaksanakan Universitas Islam Indonesia (UII) dan The Conversation Indonesia (TCID), Wawan Mas’udi selaku Dekan Fisipol UGM menegaskan bahwa politik identitas sekarang memiliki nuansa yang berbeda. Menurutnya, dulu politik identitas dimanfaatkan sebagai alat perjuangan kelompok tertentu, tetapi sekarang ia menjadi senjata politik untuk meraih tongkat kekuasaan. Transformasi motif inilah yang menandakan adanya bahaya dari politik identitas (UII, 2023).

Pemilu DKI Jakarta 2017 merupakan salah satu catatan politik identitas yang sangat jelas di mata publik. Hal ini terkesan mubazir dalam pengertian ihwal ini seringkali disinggung dan dibahas dalam perbincangan politik Indonesia. Sentilan demi sentilan baik melalui tulisan maupun dalam talk shaw di televisi, topik ini hampir tidak pernah absen dalam nada politik kita. Jika publik merasa bosan dengan ulasan politik demikian, maka penegasannya harus dipertebal untuk merangsang kepekaan indra publik terhadap isu politik yang satu ini. Terhadap kejenuhan publik itu, penulis merasa perlu untuk menghadirkan cara pandang baru bahwa lalu lintas topik politik identitas, politik pencitraan dan isu SARA yang tidak absen di ruang publik sesungguhnya menunjukkan bahwa panggung politik kita amat akrab dengan pencitraan, permainan identitas dan hasutan isu SARA.

Menjelang kontestasi pemilu 2024, tidak sedikit para politikus mencari muka di hadapan masyarakat. Dalam bulan-bulan menjelang pemilu, rakyat dipertontonkan dengan politik pencitraan yakni aksi menanam padi, diskusi dan pertemuan di warung pecel lele, bahkan menggelar konser Korean pop (Jacko Ryan, 2022). Hal ini merupakan suatu balutan yang elok untuk menyembunyikan maksud orisinal. Terasa aneh, para politikus yang lazimnya nyaman dalam bangku mewah kekuasaan bahkan ada yang main slot dalam ruang wakil rakyat, tiba-tiba rela mengotori dirinya dengan lumpur para petani, betah dengan warung pedagang di pinggir jalan, dan sangat peka dengan hasrat generasi Z yang sedang mabuk bintang-bintang Korea. Ada apa?

Ihwal tersebut adalah bahasa realitas panggung politik Indonesia hari ini. Rakyat mestinya tidak terlena dan harus jeli mengoreksi aksi ‘mulia’ semacam itu. Gambaran tersebut tidak lain adalah cerminan politik Indonesia yang masih mentah dan tidak mengakar. Ada baiknya peran generasi Z diasah dalam konteks kenyataan tersebut. Urgensitas gen Z dipertegas karena pencitraan politik seperti itu tidak terlepas dari media sosial sebagai perantara untuk menyebarluaskannya. Dengan diseminasi aksi temporal politikus tersebut, ada harapan yang disembunyikan untuk dipenuhi yakni kepercayaan dan suara rakyat. Karena itu, fenomena ini tidak hanya dibentengi dengan tameng normatif, tetapi semangat dan peran generasi Z harus dipertajam karena mereka sudah tidak asing dengan media sosial. Selain itu, keharusan generasi Z mendapatkan penekanan karena ada satu hal penting juga dalam tubuh bangsa yakni meluapnya generasi Z yang mengisi bonus demografi Indonesia. Di samping itu, hal yang urgen dari penjaringan generasi Z dalam menghidupkan demokrasi Indonesia adalah kekhasan model politik generasi Z.

Generasi Z dan Rejuvenasi Politik Indonesia

Hari ini Indonesia sedang berlayar dalam tahun politik menyongsong pemilu 2024. Para politikus dan kontestan pemilu sedang beraksi dalam berbagai cara untuk mengakumulasi atensi publik dan mendulang suara rakyat. Alat yang digunakan bisa saja agama, hasutan SARA, pencitraan politik, singkatnya manipulasi dan permainan identitas. Karena itu, perlu adanya semacam kewaspadaan politik dalam diri publik. Publik harus berwaswas agar tidak termakan dan terjatuh dalam model politik seperti itu. Perlu diketahui, gaungan politik jenis ini merupakan indikasi dari politik kita yang infantil. Politik kita masih mentah. Ia mengapung diangkasa dan tidak membumi. Hal ini tidak substansial dalam politik. Rocky Gerung menyatakan bahwa politik kita adalah politik yang mengangkasa dan terkesan politik akhirat karena selalu memainkan isu agama, padahal politik berbicara tentang kehidupan hari ini dan saat ini bukan nanti. Atas dasar itu, penulis berpikir bahwa gen Z yang sedang memenuhi ruang bonus demografi Indonesia berandil dalam mematangkan politik kita hari ini.

Dalam peta pemilu 2024, generasi Z akan terlibat dan akan berpengaruh terhadap hasil pemilu 2024. Hal ini dikarenakan persentase generasi Z dalam skala total penduduk Indonesia cukup signifikan. Berdasarkan data BPS 2020, 27,94 persen dari 270,2 juta penduduk Indonesia ditempatkan oleh generasi Z (kelahiran 1997-2012) (Febriani Sulistia Pratiwi, 2023). Mengutip Supas, Sonny Harry B Harmadi (Kompas.id, 2022) menulis bahwa pada tahun 2024 jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas berjumlah 205,3 juta jiwa. Dua puluh tiga koma satu persen (23,1%) di antaranya adalah pemilih gen Z. Hal ini berarti dari empat pemilih terdapat satu pemilih gen Z.

Dalam tesisnya tentang Generation Z Goes to College, Corey Seemiller dan Meghan Grace (2016) menulis beberapa karakteristik generasi Z yang menurut penulis menjadi sumbangan positif dalam mematangkan kembali politik Indonesia. Pertama, generasi Z itu kreatif dan inovatif. Generasi Z cenderung menjadi pembelajar mandiri (Muhammad Misbakul Munir, 2023). Hal ini dapat dipahami karena referensi-referensi aktual sudah memberikan tawarannya dari berbagai sisi dalam ruang kemajuan media sosial dan teknologi. Ihwal tersebut juga merangsang kreativitas gen Z. Perangsangan kreativitas ini bertalian dengan karakter mereka yang selalu terbuka dengan hal-hal baru, ide-ide baru. Hasrat berwirausaha secara mandiri dari gen Z juga serentak disentil dan ditumbuhkan. Dalam ruang pemahaman inilah Anies Baswedan dalam acara Kompasfest Presented by BNI bertemakan “Will, Wit, Wisdom: Lessons for the Future Leaders”, mengatakan bahwa anak muda yang kreatif dan inovatif sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Menurutnya, generasi muda mampu menawarkan solusi dan cara pandang baru karena memiliki perspektif yang baru pula. Atas dasar itu, pelibatan gen Z dalam memformulasikan kebijakan dan solusi perlu diupayakan (Kompas.id, 2022).

Pemerintah perlu membuka jaringan relasi dengan generasi Z. Sebagaimana yang dikutip oleh Andreas Maryoto, Delloite menjelaskan bahwa relasi itu dapat termanifestasi dalam beberapa bentuk (Kompas, 25 November 2019). Pertama, transparansi data yakni keterbukaan pemerintah untuk memberikan bagian yang memang menjadi tanggungan gen Z. Kedua, tawaran menarik terhadap gen Z. Artinya, pemerintah mengakomodasi serpihan-serpihan harapan generasi ini. Upaya mengaksenkan intensi gen Z dan mewujudkannya adalah attracted ways untuk menjaring keterlibatan mereka. Ketiga, adanya jaminan implikasi positif dari kebijakan pemerintah untuk gen Z. Dengan jaminan ini, perjuangan generasi Z bukanlah sesuatu yang kosong tetapi memiliki muatan yang menjanjikan sebagai landasan perlunya keaktifan mereka digalakkan.

Kedua, multitasking, gesit dan cepat tanggap. Salah satu keunggulan generasi Z adalah kecepatan dalam merespons perubahan. Yang dimaksudkan di sini adalah kepekaan akan kondisi di mana ia hidup. Generasi ini identik dengan labelitas cepat beradaptasi. Hal tersebut berakar kuat dalam mentalitas mereka yang oleh Jason Dorsey dan Denise Villa sebut sebagai fleksibilitas dan keseimbangan hidup-kerja (dalam Muhammad Misbakul Munir, 2023). Realitas ini merupakan suatu kata kunci yang telah dimiliki generasi Z yang memungkinkannya dapat bertahan dalam kemajuan peradaban dan perkembangan zaman kontemporer.

Dalam konteks politik, satu hal yang tidak kita pungkiri bahwa politik itu sedang tumbuh dalam dinamika zaman. Ada banyak yang berbeda dari setiap zaman baik dari sisi lingkungan, teknologi, sarana dan prasarana, maupun paradigma berpikir. Keberadaan politik dalam lorong dinamika kehidupan dan konteks hidup manusialah brand politik sebagai the art of possibility mendapatkan aksentuasi. Seturut nada ini, menggandeng tangan generasi Z untuk mengartikulasikan kebijakan publik dalam arti kolaborasi adalah hal penting karena politik itu sedang berjalan dalam lorong gen Z. Andil generasi Z adalah menampilkan wajah generasinya dan memberikan insight arus zaman kepada pemangku kebijakan. Di sini, bukan berarti politikus senior tidak mampu mencium perubahan zaman, tetapi mendengarkan suara dari generasi Z merupakan upaya memahami konteks zaman dari mereka yang lahir dalam zaman tersebut. Zaman memiliki generasinya dan setiap zaman memiliki cara pandangnya tersendiri. Di sinilah letak pentingnya partisipasi generasi Z dalam panggung politik.

Ketiga, generasi Z aktif dalam kerja tim dan memiliki social sense yang tinggi. Tidak sedikit kaum muda pada umumnya dan generasi Z pada khususnya diklaim apatis dengan ihwal politis. Dalam kenyataannya, generasi Z tidak alergi dengan hal politis. Berdasarkan Survei Nasional Kompas periode Oktober 2022, sebesar 33 persen suara dari generasi Z mengalir ke partai politik papan tengah (keterpilihan lebih dari tiga persen) dan papan bawah (keterpilihan kurang dari tiga persen). Jumlah tersebut meningkat sebesar 6,6 persen dari survei sebelum (Kompas.id, 2022).

Selain itu, partisipasi generasi Z dapat kita lihat dalam serpihan-serpihan organisasi dan gerakan sosial-politis, misalnya: #MahasiswaBergerak, #GejayanMemanggil, #MahasiswaBersatu, #ReformasiDikorupsi, #HidupMahasiswa (Desi Ariani, 2020). Hal ini merupakan cerminan model partisipasi politik generasi Z dengan media sosial sebagai mediasi yang sangat akrab dengan mereka di era revolusi industri 4.0. Gerakan politik demikian adalah bentuk protes ala generasi Z terhadap model politik yang sudah menyebarkan bau amis kebobrokannya. Perlawanan generasi Z terhadap citra politik yang buruk ini diberangkatkan atas dasar agresivitas mereka pada perjuangan hak dan solidaritas sosial. Dalam tesisnya tentang Generation Z Goes to College, Corey Seemiller dan Megan Grace (2016: 37) menulis bahwa secara sosial generasi Z sangat menjunjung tinggi pluralitas dan keadilan sosial. Keyakinan ini terlahir dari keterpaparan mereka terhadap banyak orang yang berbeda latar belakang.

Kualitas positif yang ada dalam diri generasi Z inilah yang mesti diapresiasi oleh fasilitator demokrasi. Sesuatu yang khas dalam diri generasi Z justru sudah absen dari ruang demokrasi dan wadah perpolitikan kita. Ihwal minusnya penghargaan akan pluralitas ini dapat dilihat dalam politisasi agama, misalnya gerakan 411 dan 212 yang sudah melekat dalam ingatan politik bangsa. Politisasi agama memperlihatkan adanya intensi untuk mempromosikan nilai superioritas atas kelompok lain, mendiskreditkan kelompok yang tidak sama, melegitimasi kekerasan, dan berujung pada upaya hegemoni terhadap mereka yang berbeda. Di tengah parasit politik seperti itu, partisipasi generasi Z yang mengarusutamakan pluralitas merupakan percikan yang baik dalam politik. Sumbangan politis gen Z dalam hal ini adalah mengaktifkan kembali rasa keberagaman dari publik pada umumnya dan pemangku kebijakan publik pada khususnya. Dengan itu, politik generasi Z mesti di-bold dalam arti dipertegas.

Generasi Z yang dilabeli sebagai agen perubahan justru berpotensi untuk mengakarkan raut demokrasi tersebut. Keberakaran dalam hak sebagai kekhasan yang diusung oleh generasi Z adalah juga inti demokrasi dan jiwa dari politik. Namun, hari ini politik itu tidak melekatkan pijakannya dalam esensi tersebut. Ada banyak korupsi dalam tubuh korporasi dan kebebasan beragama masih ragu-ragu dan takut untuk diekspresikan karena pemerintah tidak mengaktifkan konstitusi untuk melindungi mereka yang minoritas dari cengkraman mayoritas yang radikal. Ini merupakan potret politik kita hari ini. Rupa-rupanya, tubuh politik itu hanya merias kulitnya saja tanpa memedulikan roh dan jiwanya. Ia tidak kuat melandaskan diri pada hak asasi. Karena itu, sumbangsih generasi Z dengan mengusungkan perjuangan hak, solidaritas sosial dan kolaborasi dalam tim bisa menjadi ‘nafas baru’ dalam organ perpolitikan hari ini.

Atribut positif yang ada dalam diri gen Z merupakan sesuatu yang mestinya tidak perlu dipandang sebelah mata oleh pemegang mandat negara. Sebagaimana yang sudah disentil sebelumnya, atmosfer politik Indonesia beberapa dekade ini sangat dekat dan intens dengan model politik pencitraan, politik identitas, dan politisasi agama. Model politik demikian tidak lain adalah potret politik yang masih kosong, tak berjiwa, dan tak berisi. Dalam rel politik itulah video para pemimpin, kandidat pemilu dan para politisi negara ini sedang beraksi. Di samping Indonesia digiring dalam perhelatan politik seperti itu, Indonesia juga sedang didominasi gen Z dalam peta bonus demografinya. Disamping itu, generasi Z memiliki kualitas positif yang penting untuk mematangkan dan mengakarkan politik Indonesia. Kualitas itu antara lain; generasi Z itu kreatif dan inovatif; multitasking, gesit dan cepat tanggap; dan generasi Z aktif dalam kerja tim juga memiliki social sense yang tinggi. Karena itu, kualitas gen Z merupakan sesuatu yang tepat untuk diakomodasikan dalam perpolitikan Indonesia hari ini. Dengan demikian, pemilu 2024 dapat disambut dengan bekal demokrasi dan wajah perpolitikan yang baik, berkualitas, berisi dan benar.

Daftar Pustaka

  • Ariani, Desi. 2020. Gagasan Millenial & Generasi Z Untuk Indonesia Emas 2045. (n.p.): Fianosa Publishing<Gagasan Millenial & Generasi Z Untuk Indonesia Emas 2045 – Google Books>diakses pada 11 November 2023.
  • Harmadi, Sonny Harry B. 2022. “Generasi Z dan Pemilu 2024”. Kompas.id, 28 Desember 2022< https://app.komp.as/jpcVxdX6QMZAUBaGA>diakses pada 12 November 2023.
  • Maryoto, Andreas. 2019. “Melibatkan Milenial”. Kompas, 25 November 2019.
  • Mewangi, Melati, dkk. 2022. “Generasi Muda Membawa Gagasan dan Solusi Baru”, Kompas.id, 20 Agustus 2022< https://app.komp.as/YgrMYdtP3F6y8LGH9>diakses pada 12 November 2023.
  • Munir, Muhammad Misbakul. 2023. Islamic Finance for Gen Z Karakter dan Kesejahteraan Finansial untuk Gen Z: Penerapan Islamic Finance sebagai Solusi (n.p.): cv. Green Publisher Indonesia< ISLAMIC FINANCE FOR GEN Z KARAKTER DAN KESEJAHTERAAN FINANSIAL UNTUK GEN Z:… – Google Books>
  • Nugraheni, Arita. 2022. “Survei Litbang ‘Kompas’: Membaca Arah Pilihan Gen Z di Pemilu 2024”. Kompas.id, 02 November 2022<https://app.komp.as/5FRRRjiWnVZcJb7Q7>diakses pada 11 November 2023.
  • Pratiwi, Febriana Sulistya. 2023. “Ikuti Survei DataIndonesia.id Soal Generasi Z di Indonesia”, DataIndonesia.id, 21 Agustus 2023< Ikuti Survei DataIndonesia.id Soal Generasi Z di Indonesia>diakses pada 12 November 2023.
  • Ryan, Jacko. 2022. “Melampaui Politik Pencitraan”. detiknews.com., 17 Oktober 2022< Melampaui Politik Pencitraan (detik.com)>diakses pada 12 November 2023.
  • Seemiller, C., Grace, M. 2016. Generation Z Goes to College. Britania Raya: Wiley< Generation Z Goes to College – Google Books>diakses pada 11 November 2023.
  • Universitas Islam Indonesia. 2023. “Meneropong Munculnya Politik Identitas pada Pemilu 2024”. UII.ac.id., 12 Mei 2023< Meneropong Munculnya Politik Identitas pada Pemilu 2024 – UII>diakses pada 12 November 2023.

12 comments

Vano jemadin November 26, 2023 - 7:34 am

Terima kasih untuk saudara Aventinus Darmawan Hadut telah menulis tentang Peran Generasi Z dan politik Kekinian. Tulisian ini, hemat saya cukup bernas jika melihat lebih dalam bagaimana Peran Genere rasi Z Yang katantanga Agen perubahan, Kurang lebih begitu tesis lama di kalangan para pengerak perubahan sosial yang terus melandasi optomisme untuk menempatkan kaum muda pada titik sentral dalam upaya trasformasi sosial dan penguatan demokrasi sipil.

Tentu, sebagai agen perubahan, kaum muda adalah aset bangsa dan negara. Dalam sejarah, pemuda telah memberikan kontribusi besar dalam memperjuangkan indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Dengan demikian model partisipasi politik generasi z pada era kekinian terkait lansung dengan kepentingan masyarakat kecil dan keterlibatan ini mampu mengadvokasi serentak mempengaruhi kebikan pemerintah.
Oleh karena itu, generasi z tidak boleh alergi politik walaupun politik itu syda diasosiasikan sesuaru yang buruk.

Reply
J Harto Sar November 26, 2023 - 8:00 am

Gen Z memang dikenal dengan keakrabannya dengan dunia teknologi digital. Itu adalah modal untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Gen Z diharapkan untuk mendigitalisasi aktivisme politik sehingga demokrasi bebas dari politisasi identitas. Terima kasih untuk artikel ini.

Reply
Vano jemadin November 26, 2023 - 8:05 am

Mantap Kae Avent Hadut. Tulisan bernas. Saya pikir generasi Z lebih mengenal apa itu pencitraan karena Generasi Z lebih dekat dgn media sosial. Oleh sebab itu, generasi Z mampu membedakan mana politisi yang pencitraan dan mana yang murni merakyat.

Reply
Isburhanu November 26, 2023 - 8:32 am

Terimakasih sdr. Aven Hadut. Tulisan ini sangat relevan dalam konteks perpolitikan saat ini. Saya garis bawahi soal mutu partisipasi generasi z itu nantinya. salah satu hal yang menunjang mutu partisipasi generasi z dalam pemilu adalah kualitas informasi politik yang mereka punya. semakin valid dan bermutu informasi, semakin bermutu partisipasi mereka. Dalam buku Demokrasi di Tangan Netizen, Fayakhun Andriadi mepertegas akurasi prediksi Daniel Bell bahwa ciri utama masyarakat pascaindustri adalah informasi dan pengetahuan, bukan modal dan tenaga kerja. Dengan demikian, aliran informasi yang begitu cepat saat ini menunjang partisipasi positif gen z apabila semua itu tidak disia-siakan. mubazir.

langkah preventif terhadap mubazirnya informasi itu bisa dilakukan oleh media atau dengan pemanfaatan jurnalisme yang berkembang. jurnalisme berperan penting dalam mengalirkan informasi kepada khayalak. namun persoalan baru muncul ketika semua media menentukan keberpihakan mereka terhadap paslon tertentu. berita-berita dimodifikasi sedemikian rupa untuk menarik minat, mendulang suara, bahkan di tangan pembaca yang keliru menginterpretasi, berita-berita itu justru memprovokasi. hal ini menjerumuskan gen z dalam kekaburan informasi-erat kaitannya dengan post truth. kualitas informasi di tangan gen z pun bisa jadi sangat rendah.

jadi siapa yang salah??

Reply
Aven November 26, 2023 - 5:19 pm

Terima kasih atas komentarnya. Ada pertanyaan di akhir komen. Hemat, saya pertanyaan itu sederhana tapi menjawabnya menyentuh banyak stakeholders bangsa. Saya membaca model dri semacam ambivalensi informasi yg kemudian menyeret gen Z dalam dua sisi ini sebgai model intrik vertikal/top-down. Kelemahan yg sudah terbaca ada dlm diri gen Z justru menjadi semacam ruang komofifikasi oleh otoritas tertentu untuk mengeser kaum gen Z pada pola permainan tertentu. Tulisan politik kekinian dan partisipasi generasi Z lebih cenderung memakai model down-top. Gen z disadarkan terlebih dahulu bahwa mereka memiliki kualitas yg bisa mematangkan politik hari2 ini yg masih infantil. Sesudahnya, panggung politik indonesia harus membuka tirai politiknya agar ruang gen Z dalam panggung tersebut dapat diekspresikan secara baik. Demikian sekilas sudut pandangnya. Pertanyaan akhir itu sangat retoris. Mempertanyakannya dengan formulasi demikian, berarti mengimplisitkan satu poin penting dibelakangnya yakni siapa yg bertanggung jawab/bgmna mengatasinya? Saya mengatakan bahwa stakeholders bangsa bertanggungjawab dgn ini tentunya. Menjawabinya berarti mmebedah satu persatu elemen2 dri rumah indonesia ini👏👏👏👏👏🙏 good idea

Reply
Vano jemadin November 26, 2023 - 8:42 am

Suatu ulasan yang amat menarik dan sangat kontekstual. Aven Hadut telah memberikan semacam “awasan” bagi generasi z untuk tidak terlena dalam perkembangan zaman tetapi juga turut ambil bagian dalam perpolitikan bangsa apalagi dalam masa kontestasi sekarang ini yang amat menentukan masa depan bangsa👏👏

Reply
Aven November 26, 2023 - 8:51 am

gen Z memberikan gambaran zaman kepada promotor demokrasi dan politik. karena itu, keharusan gen Z sesuatu yg niscaya

Reply
Aven November 26, 2023 - 8:54 am

bukankah demokrasi kita sedang dalam zaman gen Z? karenanya, partisipasi gen Z sangat diperlukan

Reply
Alexander Lapilia November 26, 2023 - 9:32 am

terimakasih saudara penulis telah menunjukkan kekuarangan tubuh politik Indonesia kini dan menunjukkan juga menawarkan sesuatu yang urgen yakni Reformasi politik menuju politik yang membumi (menurut pak rocky) dengan menunggangi kelebihan generasi z indonesia.
secara umum, saya sependapat dengan penulis. kaum muda dengan bonus demografinya perlu melihat perhelatan pesta demokrasi 2024 sebagai momen untuk memurnikan politik kita yang penuh bakteri politik identitas, isu SARA, juga ada populisme.

membaca tulisan ini, saya berpikir soal kaum muda yang berkualitas dalam pendidikannya dan peran media sosial. kita tidak lepas dari hoax dan tentunya perang dominasi informasi dari media media yang berat sebelah… tentu, kamu muda akan salah bertindak bila hari-harinya dicekoki dengan informasi yang tidak berkualitas.. lebih lagi, apabila pendidikan kaum mudanya tidak diperhatikan baik atau telah sengaja diserongkan sejak awal (misalnya kasus di sekolah agama yang walinya mengajarkan kalau berhubungan sex dengannya akan membuat murid masuk surga). ini realitas yang telah mencuat beberapa kali akhir akhir ini seperti di NTB dan NTT. jika demikian jadinya, maka kaum muda akan terpisah pendapat dan gerakan sekurang kurangnya menjadi dua yakni yang reformatif dan yang dihambai oknum/aliran pemikiran tertentu. Keduanya akan terus saling berhadapan bila tidak perbaikan mutu pendidikan dan mutu informasi media.

terlepas dari itu, kita sebagai generasi Z.. ayo kita perhatikan kualitas pendidikan dan informasi yang kita terima sembari terus berpartisipasi aktif dalam dunia politik negara kita… Generasi Z, Bisaa!!

terimakasih.

Reply
Yohanes Pranata selai November 26, 2023 - 9:41 am

Tulisan ini sangat relevan untuk konteks Indonesia saat ini, terkhususnya generasi Z yang digadang2 menjadi generasi emas di tahun 2045. Partisipasi aktif dari kaum muda untuk terlibat dalam proses memilah dan memilih calon pemimpin bangsa Indonesia tentu menjadi hal yang sangat penting. Sebagai agen perubahan, kaum muda tentu dituntut untuk terlibat secara aktif dan bukannya apatis. Tulisan ini juga sekaligus menyadarkan kaum muda kita saat ini yang masih apatis dengan kehidupan politik bangsa ini termasuk memilih calon pemimoin bangsa.

Reply
Berno Jani November 26, 2023 - 6:52 pm

Tulisan ini patut diapresiasi karena penulis memberikan ulasan yang bernas dengan argumentasi yang logis. Penulis kurang lebih menggagas pentingnya peran generasi z di tengah gencarnya politik identitas yang menjalar dalam pembuluh darah bangsa kita. Bravo

Reply
Randhy November 26, 2023 - 7:48 pm

Membahas partisipasi politik Generasi Z dan meletakkannya dalam konteks era industri 4.0, pokok pikiran tulisan ini sekilas terdengar sangat relevan. Generasi Z perlu disadarkan tentang kualitas” sebagaimana dijabarkan di atas. Akan tetapi, dinamika dalam ruang public kita seharusnya bisa melangkah lebih jauh dari sekadar industry 4.0 kepada Society 5.0. Artinya kemajuan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi harus sejalan dengan kemajuan kualitas manusia. Tuntutan untuk Gen Z bukan sekadar memakai teknologi sebagai corong untuk bersuara, tetapi juga meningkatkan kualitas intelektual dan memperkaya referensi politik agar narasi yang tersampaikan bisa memenuhi kualitas minimal yang disyaratkan demokrasi modern. Perlu sekali misalnya melakukan riset yang dalam sebelum berpendapat. Ini terdengar seperti pesimisme. Namun, menyaksikan banyak anak muda sekarang yang teralalu sering ‘sekadar bersuara’ tanpa menaruh perhatian pada kedalaman argumentasi, membuat saya yakin bahwa kualitas berpikir memang menjadi aspek yang masih iadi catatan penting untuk dimilikki. Jangan sampai kemajuan teknologi malah jadi bumerang, dan niat Kita untuk mengartikulasikan kepentingan public secara kritis mandeg di tengah jalan, lalu dengan mudah ‘dirujak’ para politisi oportunis untuk dijadikan bahan olokan bagi generasi Kita.

Reply

Tinggalkan Komentar

Komentar Terbaru

  • VIEW NEWZ

    Very interesting news information that doesn't make you bored, especially the latest…

  • BERITA MANTUL

    One of the rare natural phenomena that will occur next month is…

  • 168NEWS

    Several central banks have begun considering raising interest rates to control rising…

  • Anoni

    jazakallah khairo untuk infaq 1jt nya barokallahufik

  • POS VIRAL

    This news is very interesting, the content is different and unusual, making…

Chat WhatsApp
Butuh Bantuan?
Selamat datang di Portal Berita Paradeshi. Untuk memudahkan pembaca dalam memahami beragam informasi yang kami sajikan, baik dalam bentuk berita ataupun artikel, seluruh konten yang dihadirkan kami kanalkan dalam beragam rubrik.

Silahkan menghubungi kami untuk mengetahui informasi lebih lanjut