0 comment 77 views

Politik Identitas: Mayoritas Menjadi yang Teratas

Indonesia memiliki keberagaman yang kompleks pada setiap aspek kemasyarakatannya. Indonesia menempati posisi ke-4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dengan total penduduk sebanyak 270.203.917 pada tahun 2020. Persebaran jenis kelamin penduduk terdiri dari 136.661.899 penduduk laki-laki dan 133.542.018 penduduk perempuan. Dari data sensus BPS yang didapat pada tahun 2010, Indonesia memiliki lebih dari 300 etnis dengan 633 kelompok suku besar yang tersebar dari ujung barat hingga timur gugusan Kepulauan Nusatara. Keberagaman kondisi kemasyarakatan di Indonesia merupakan kekayaan yang dapat menjadi aset berharga dalam pengembangan kepribadian bangsa. Oleh sebab itu, diperlukan perekat yang dapat menyatukan dan menghubungkan antar kelompok masyarakat di Indonesia.

Bangsa Indonesia memiliki kesamaan latar belakang sejarah yang membangun rasa sepenanggungan dan sepersaudaraan yang kuat antar daerah. Hal tersebut adalah salah satu pemantik persatuan yang kuat di Indonesia. Kesadaran akan perlunya ikatan antar daerah demi mencapai tujuan bangsa yang merdeka menuntun pemuda-pemuda dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengucapkan ikrar sumpah pemuda. Sumpah pemuda yang diucap pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi tonggak awal keterikatan antar golongan di Indonesia.

Keberagaman di Indonesia, disatukan dengan bahasa dan rasa nasionalisme yang dibawa dari semangat sumpah pemuda. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pergulatan antar golongan masih sering terjadi. Konflik antar suku seperti yang terjadi di Yahukimo, Papua dimana konflik dipicu oleh isu primodialisme antar suku. Tragedi Sampit (2001) yang terjadi antar suku Dayak dan Madura di Kalimantan yang dipicu oleh persaingan ekonomi. Tragedi Kerusuhan Mei 1998 yang terjadi antar kelompok etnis pribumi dengan kelompok etnis Tionghoa yang dipicu oleh krisis moneter. Serta konflik antar agama seperti penolakan pembangunan tempat ibadah agama tertentu di suatu daerah menjadi beberapa polemik yang terjadi akibat adanya keberagaman.

Konflik antar golongan yang terjadi menunjukkan bahwa masih adanya pengelompokkan tertentu dalam strata masyarakat, dimana seharusya hal-hal yang menyangkut terkait suatu golongan atau kelompok adalah hal yang bersifat horizontal. Golongan yang ada memiliki strata yang sama dalam lingkungan kemasyarakatan, tidak ada suatu golongan yang lebih unggul atau lebih rendah dari golongan lainnya dalam strata sosial di negeri ini. Namun karena satu atau dua hal, konflik sangat mungkin terjadi antar golongan dengan membawa kesan superior pada suatu golongan tertentu.

Indonesia menganut politik demokrasi, dimana setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam kedudukan politik dan kemasyarakatan. Setiap golongan memiliki hak untuk memilih ataupun dipilih dalam ranah politik. Politik demokrasi secara gamblang menghapus batasan antar golongan dan menyamaratakan kedudukan antar golongan. Namun, tidak jarang suatu partai politik secara langsung mengangkat isu primodialisme dalam kampanyenya. Biasanya, isu identitas yang dibawa dalam kampanye politik dilakukan untuk menarik dukungan dari suatu golongan tertentu. Dengan menciptakan keterikatan tertentu terhadap suatu kelompok yang dianggap ‘berpotensi’, kekuatan politik akan mendapatkan dukungan yang mutlak dan kuat.

Penggunaan identitas dalam ranah politik seringkali disuarakan sebagai suatu bentuk nasionalisme yang mendukung setiap perbedaan yang ada. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dukungan dari suatu kelompok tertentu akan sangat berpengaruh. Individu yang berasal dari kelompok mayoritas memiliki potensi kemajuan yang lebih besar dalam pemilihan politik. Hal tersebut dapat diamati pada pemilihan Presiden di Indonesia. Mayoritas Presiden di Indonesia memiliki latar belakang yang hampir sama, yaitu berasal dari suku Jawa dan/atau beragama Islam. Dimana suku Jawa dan agama Islam adalah suku dan agama mayoritas yang ada di Indonesia. Hal tersebut yang kemudian memunculkan paham bahwa, “jika ingin menjadi presiden, maka harus ber suku Jawa dan/atau beragama Islam”. Anggapan tersebut tentunya kurang tepat, sebab semua golongan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan panggung di ranah politik. Walaupun dukungan dari kelompok mayoritas sangat penting, namun bukan tidak mungkin individu yang berasal dari kelompok minoritas dapat melaju di panggung politik. Hanya saja, kebanyakan individu akan sangat mempertimbangkan ikatan yang dimiliki oleh individu tersebut dalam menentukan pilihan. Semakin dekat ikatan atau kesamaan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan individu tersebut untuk dipilih.

Munculnya stereotype bahwa individu dari kelompok mayoritas akan lebih unggul, membuat panggung politik terasa jauh dari jangkauan kelompok minoritas. Stereotype yang muncul akan membuat persaingan di panggung politik didominasi oleh individu dari kelompok mayoritas yang tumbuh dengan nilai-nilai yang dibawa dari kelompok tersebut. Persaingan yang monoton di panggung politik membangun iklim kampanye yang cenderung memusat pada daerah atau golongan tertentu, dimana potensi massa itu muncul.

Di sisi lain, pergolakan yang muncul dari golongan minoritas seringkali mengatasnamakan kesejahteraan dan kepentingan golongan mereka sendiri. Hal tersebut dipicu oleh ketidak adilan yang dialami di masa lalu, dimana kesejahteraan mereka ditekan oleh golongan mayoritas. Seperti yang terjadi di negara barat saat ini, dimana golongan kulit hitam mulai menyuarakan aspirasi untuk dapat hidup sebagaimana golongan kulit putih hidup. Mereka menuntut hak dan kesejahteraan yang sama dalam strata sosial dan politik. Pergolakan didasari oleh ketidak adilan yang dialami golongan kulit hitam di masa lalu. Perampasan kesejahteraan yang dialami oleh golongan minoritas tersebut yang menghidupkan kembali semangat untuk menjadi sama rata dengan golongan mayoritas. Pergerakan dari kaum minoritas biasanya didukung oleh golongan yang menaruh simpati kepada kaum tersebut yang berasal dari kaum mayoritas.

Dukungan yang berasal dari kaum mayoritas dapat menjadi sangat massive, menyebabkan kaum minoritas dapat menyuarakan aspirasi dan mendapatkan hal yang mereka perjuangkan. Namun, dukungan yang massive tersebut dapat menjadi bumerang dalam sstrata sosial tertentu. Dukungan yang massive pada golongan kulit hitam di dunia barat membuat politik identitas pada golongan kulit hitam semakin disuarakan, bahkan seakan menjadi kewajiban untuk melibatkan multirasial didalam dunia hiburan, seperti film atau reality show. Tentunya hal tersebut sangat baik dilakukan untuk mengangkat isu kesamaan hak dan kesejahteraan bagi semua golongan. Bahkan panggung politik di dunia barat telah banyak diisi oleh golongan multirasial. Bukan tidak mungkin hal yang sama dapat terjadi di Indonesia, dimana iklim politik berubah berbanding terbalik dengan yang terjadi saat ini. Iklim politik di Indonesia dapat berubah menjadi multirasial sehingga semua golongan memungkinkan untuk mendapatkan panggung di dunia politik dan kesamaan strata di lingkungan sosial.

Latar belakang bangsa Indonesia yang dipenuhi oleh keberagaman membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unik. Bangsa Indonesia memiliki keberagaman sumber daya manusia yang dapat menjadi aset berharga dalam kemajuan dunia politik. Dominasi golongan mayoritas dalam dunia politik di Indonesia yang monoton dapat berubah menjadi multirasial jika dukungan pada kaum minoritas dapat digalakkan. Dengan tersedianya panggung politik yang mengakomodasi semua keberagaman yang ada di Indonesia, bukan tidak mungkin potensi sumber daya manusia terbaik dapat tersaring dengan lebih baik pula. Pengesampingan kepentingan antar golongan di Indonesia dalam ranah politik dan sosial dapat menjadi perekat yang baik antar golongan individu. Dengan adanya penerimaan antar golongan di Indonesia, kemajuan dan kesejahteraan bangsa dapat terpenuhi bagi semua golongan.

Referensi

  • https://indonesia.go.id/profil/suku-bangsa/kebudayaan/suku-bangsa: suku bangsa.
  • https://www.inilah.com/konflik-antarsuku-di-indonesia-yang-dipicu-masalah-ekonomi-dan-hoax: Konflik antarsuku di Indonesia yang dipicu masalah ekonomi dan hoax.
  • https://sensus.bps.go.id/main/index/sp2020: Jumlah dan distribusi penduduk.
  • https://www.bps.go.id/news/2015/11/18/127/mengulik-data-suku-di-indonesia.html: Mengulik data suku di Indonesia.
  • https://www.pskp.or.id/2020/08/06/konflik-agama-dan-krisis-intoleransi-tantangan-atau-mimpi-buruk-keberagaman-indonesia/

Tinggalkan Komentar

Komentar Terbaru

  • VIEW NEWZ

    Very interesting news information that doesn't make you bored, especially the latest…

  • BERITA MANTUL

    One of the rare natural phenomena that will occur next month is…

  • 168NEWS

    Several central banks have begun considering raising interest rates to control rising…

  • Anoni

    jazakallah khairo untuk infaq 1jt nya barokallahufik

  • POS VIRAL

    This news is very interesting, the content is different and unusual, making…

Chat WhatsApp
Butuh Bantuan?
Selamat datang di Portal Berita Paradeshi. Untuk memudahkan pembaca dalam memahami beragam informasi yang kami sajikan, baik dalam bentuk berita ataupun artikel, seluruh konten yang dihadirkan kami kanalkan dalam beragam rubrik.

Silahkan menghubungi kami untuk mengetahui informasi lebih lanjut