0 comment 89 views

H. Samanhudi; Pedagang Batik yang Menjadi Pahlawan Nasional RI

Menilik sejarah tentang Sarekat Islam (SI), selain nama besar H.O.S. Tjokroaminoto, kita juga akan bertemu dengan H. Samanhudi. Beliau adalah pendiri sekaligus Ketua Pertama Sarekat Islam (SI), sebuah organisasi yang pada mulanya bernama Sarekat Dagang Islam atau disingkat SDI. Nama H. Samanhudi memang tidak semasyhur H.O.S. Tjokroaminoto, namun peran dan perjuangan beliau dalam ikut serta memperjuangkan sekaligus mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Melalui Surat Keputusan Presiden RI No 590 tahun 1961 pada tanggal 09 November 1961, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional RI.

Bagaimana kisah hidup H. Samanhudi sehingga nama beliau diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia? Berikut adalah beberapa kisah perjalanan hidup beliau.

H. Samanhudi Lahir dari Keluarga Pedagang yang Taat Beragama

Pada tahun 1860-an silam, hidup seorang saudagar batik di daerah Laweyan, Kabupaten Surakarta Jawa Tengah. Saudagar itu bernama Haji Muhammad Zen. Sebagaimana penduduk Laweyan lainnya yang kebanyakan berdagang pakaian batik, dalam kesehariannya Muhammad Zen disibukkan dengan menjual batik bersama sang istri.

Waktu berlalu, pada tanggal 8 Oktober 1868, Haji Muhammad Zen dan sang istri dikarunia seorang anak yang sejak lama ia harapkan. Anak itu berjenis kelamin laki-laki, yang kemudian diberi nama “Sudarno Nadi”. Namun kemudian namanya diganti lagi menjadi “Samanhudi”.

Sebagai anak dari keluarga yang taat beragama, masa kecil Samanhudi rajin sekali belajar ilmu agama dan belajar mengaji Al-Qur’an kepada Kiai Jejorno. Kemudian Samanhudi masuk sekolah rakyat Volks School milik pemerintah kolonial Belanda di Surakarta.

Lulus dari Volks School, Samanhudi melanjutkan pendidikannya lagi ke Hollandsch Indische School (HIS) di Madiun. Karena bahasa yang digunakan adalah Bahasa Belanda, dan gurunya pun kebanyakan orang Belanda, Samanhudi merasa bosan dan menganggap sekolah di HIS tidak ada artinya bagi dirinya. Akhirnya ia pun keluar sebelum lulus dari sekolah itu.

Setelah keluar dari Hollandsch Indische School (HIS), Samanhudi kembali menimba ilmu agama dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya. Ia belajar di Pondok Pesantren KM Sayuthi di Ciawigebang, Ponpes KH Abdur Rozak di Cipancur, Ponpes Sarajaya dan Ciwaringin di Kabupaten Cirebon, dan Ponpes KH Zainal Musthofa di Tasikmalaya.

Berdagang Secara Mandiri

Selesai menimba ilmu agama di berbagai pondok pesantren, Samanhudi kemudian pulang ke kampung halamannya di Surakarta. Sekalipun ia tidak pandai dalam dunia pendidikan, namun ia memiliki semangat hidup yang tinggi seperti ayahnya. Akhirnya Samanhudi mengisi hari-harinya dengan membantu ayahnya berdagang batik. Karena memang Kota Surakarta saat itu menjadi pusat perdagangan batik.

Semakin hari, keterampilan dan pengetahuan Samanhudi dalam dunia perdagangan batik semakin matang. Kemudian di usianya yang ke-19 tahun, Samanhudi nekad membuka perdagangan batik sendiri dari keluar dari usaha dagang ayahnya.

Setelah beberapa bulan menjalankan usaha batiknya, Samanhudi dikenal sebagai saudagar batik yang ramah dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Karena bagi Samanhudi, seorang pemilik usaha harus menganggap karyawannya sebagai teman, bukan bawahan yang bisa diperlakukan seenaknya saja. Bila seorang karyawan dihargai, maka karyawan itu akan bekerja dengan tulus dan memberikan yang terbaik bagi atasannya. Sehingga usaha batik Samanhudi pun semakin hari semakin berkembang pesat.

Karena ketekunan dan kerendahan hatinya, usaha dagang Samanhudi berkembang pesat. Bahkan Samanhudi mampu membuka cabang di berbagai kota di Jawa, seperti Surabaya, Banyuwangi, Tulungagung, Purwokerto, Bandung, dan Parakan. Di Cabang Bandung, perusahaannya dikelola oleh saudara kandungnya sendiri yang bernama Haji Amir. Dengan keuntungan usahanya yang besar, Samanhudi mampu memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, termasuk bangsawan keraton.

Pengabdian Kepada Masyarakat

Setelah usahanya semakin pesat dan memiliki keuntungan yang banyak, Samanhudi tak menyia-nyiakan hasil usahanya. Kemudian pada tahun 1904, Samanhudi menunaikan ibadah haji ke Makkah. Selain menunaikan ibadah haji, Samanhudi juga memanfaatkan waktu luang di mekah dengan mempelajari dan mendalami lagi ilmu agama Islam, seperti fikih dan politik.

Di mekah, Samanhudi banyak menemui tokoh-tokoh Islam. Dalam pertemuan itu, ia berdiskusi dan banyak bertanya perihal Islam dan perkembangannya, terutama gerakan politiknya di era saat itu. Hasil diskusi itulah yang dijadikan inpirasi oleh Samanhudi untuk mendirikan perkumpulan ketika pulang ke Surakarta.

Setelah pulang dari Mekkah ke Surakarta, Samanhudi langsung menjalankan keinginannya untuk menyatukan umat muslim di daerah Lawean Surakarta, dengan cara mendirikan organisasi Mardhi Budhi. Organisasi ini bergerak dalam mengurus masalah kematian dan pemakaman di masyarakat sekitar.

Belum puas dengan organisasi Mardhi Budhi, Samanhudi lanjut mendirikan organisasi Rekso Roemokso pada tahun 1908. Mardhi Budhi bergerak dalam menjaga keamanan kampung yang beranggotakan saudara, teman dan pengikut Haji Samanhudi.

Perjuangan Melalui Jalur Perdagangan

Sudah sejak lama pemerintah Belanda menjajah kaum pribumi (Indonesia). Pemerintah Belanda, Eropa dan China cenderung memeras rakyat kecil dan memonopoli perdagangan. Pemerintah Belanda memberikan keistimewaan bebas dagang kepada para pedagang China daripada pedagang pribumi.

Melihat ketidakadilan itu, Samanhudi berniat melindungi kelangsungan perdagangan kaum pribumi melalui sebuah perkumpulan dagang. Kemudian ia mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada , yang sebelumnya bernama Rekso Roemokso. Karena sebelumnya Rekso Roemokso diurus oleh orang-orang kepatihan yang tidak tahu tentang anggaran dasar dan aturan organisasi, kemudian Haji Samanhudi meminta salah satu rekannya di Kepatihan, yakni R. Djojomargoso, untuk membantunya menyusun anggaran dasar Rekso Roemokso. Dalam pekerjaan itu, R. Djojomargoso dibantu Redaktur Surat Kabar Medan Priyayi, yaitu Mas Tirtoadisoerjo yang dianggap sebelumnya telah berhasil mendirikan cikal bakal Sarekat Dagang Islam (SDI) di Batavia pada tahun 1909 dan di Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911.

Pada tanggal 11 November 1911, organisasi Rekso Roemokso resmi berganti nama menjadi Sarekat Dagang Islam (SDI) Surakarta dengan Samanhudi sebagai pendirinya. Sarekat Dagang Islam akhirnya mendapatkan izin berdiri dari Gubernur Jenderal, dan Samanhudi terus berjuang agar SDI menjadi lebih besar dan mengikuti arus dagang modern.

Untuk mewujudkan impiannya itu, Samanhudi membentuk Surat Kabar Sarotomo dan mulai terbit pertama kali pada bulan Maret 1912. Selain itu, Samanhudi juga mendirikan Masjid Sarekat Islam, yang digunakan untuk membantu kaum islam pribumi yang meninggal dunia yang tidak memiliki biaya pemakaman dan tidak memiliki kerabat.

Rakyat menyambut baik usaha Samanhudi untuk mengangkat derajat para pedagang muslim kelas bawah dan membantu rakyat miskin. Hal itu dibuktikan dengan bertambahnya jumlah anggota Sarekat Dagang Islam sebanyak 3.000 orang lebih. Jumlah itu sangat besar untuk ukuran perkumpulan dagang saat itu.

Gerakan Samanhudi itu sangat mengkhawatirkan pemerintah Belanda. Kemudian mereka mencari celah agar dapat membatasi gerakan organisasi Sarekat Dagang Islam. Akhirnya pemerintah Belanda menjatuhkan sanksi pembekuan sementara bagi Sarekat Dagang Islam Surakarta pada tanggal 10 Agustus 1912.

Hukuman itu membuat Samanhudi harus menghentikan seluruh kegiatan Sarekat Dagang Islam (SDI) sehingga jumlah anggotanya pun tidak bertambah. Apalagi pemerintah Belanda membubarkan Sarekat Dagang Islam dan mencari tuduhan yang kuat. Akhirnya pemerintah Belanda menggeledah Kantor-kantor SDI serta kediaman Haji Samanhudi dan petinggi organisasi lainnya. Namun bukti itu tak jua ditemukan untuk menguatkan sanksi pembubaran SDI.

Pada saat terjadi penggeledahan itu, sedang terjadi gesekan hubungan antara Haji Samanhudi dan Mas Tirtoadisoerjo. Gesekan itu timbul karena Mas Tirtoadisoerjo menganggap SDI di Surakarta merupakan cabang organisasi SDI pusat yang telah ia dirikan di Batavia dan Bogor. Sementara Haji Samanhudi menganggap bahwa SDI di Surakarta merupakan organisasinya yang telah ia dirikan sendiri secara terpisah dari SDI Batavia. Akhirnya, kerjasama antara Mas Tirtoadisoerjo dengan Samanhudi pun menjadi renggang dan berakhir.

Setelah perselisihan itu, Haji Samanhudi mulai mencoba menjalin hubungan dengan tokoh baru sebagai teman berdiskusi, yaitu Tjokroaminoto yang merupakan salah satu anggota SDI di Jawa Timur. Kemudian seiring waktu, muncul usulan dari Tjokroaminoto kepada Samanhudi agar mengubah Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI). Karena menurut Tjokroaminoto, anggota SDI seharusnya tidak terbatas pada kaum pedagang saja. Melainkan terbuka untuk semua kalangan, termasuk rakyat biasa. Sehingga perkumpulan bisa terbuka untuk semua kalangan, bukan hanya untuk satu golongan tertentu. Gagasan Tjokroaminoto diterima oleh Samanhudi. Kemudian nota dan anggaran dasar organisasi pun diubah.

Pada tanggal 25-26 Januari 1913, diadakanlah kongres Sarekat Islam di Surabaya. Pada kongres itu, Samanhudi terpilih sebagai Ketua dan Tjokroaminoto sebagai wakilnya. Hal itu membuat posisi Samanhudi di Sarekat Islam semakin kuat. Dalam kongres itu juga dihasilkan keputusan bahwa Sarekat Islam dipecah menjadi tiga, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Pada tanggal 25 Maret 1913, diadakan lagi Kongres Sarekat Islam yang kedua yang bertempat di Surakarta. Kongres itu mengagendakan pemilihan Centraal Comite atau pengurus besar. Kongres itu dibuka oleh Samanhudi dan forum dikendalikan oleh Tjokroaminoto, sehingga peran Samanhudi pada kongres tersebut berkurang.

Dalam kongres itu, Samanhudi sangat menekankan bahwa dialah orang tertua di Sarekat Islam dan dia pula yang pertama kali mendirikannya. Mendengar itu, sebagian peserta kongres, terutama golongan muda, merasa tersinggung dan menganggap Samanhudi tidak layak memimpin Sarekat Islam karena ada golongan muda yang lebih visioner yaitu Tjokroaminoto.

Kongres kedua itu menghasilkan perselisihan antara golongan muda yang berpendidikan dan golongan tua yang kurang berpendidikan. Kemudian diadakan lagi Kongres ketiga di Yogyakarta pada tahun 1914. Pada kongres itu, para peserta memilih Tjokroaminoto menjadi Ketua Sarekat Islam dan menggeser posisi Haji Samanhudi. Karena menurut para anggota kongres, Sarekat Islam harus dipimpin oleh seseorang sesuai dengan perkembangan zaman, yaitu para pemuda. Namun para anggota tetap menghormati Samanhudi dan menjadikannya sebagai Ketua Kehormatan Sarekat Islam.

“Samanhudi tidak memenuhi semua persyaratan menjadi pemimpin yang baik karena ia praktis tidak terdidik, baik menurut Islam maupun ukuran modern, berpikiran sempit tentang segala hal di luar lingkungan sehari-harinya, sama sekali tidak memiliki kemampuan berbicara di depan umum, tanpa sopan santun, keras kepala, dan bertindak semaunya sendiri,” ucap Penasihat Urusan Bumiputera-Pemerintah Hindia Belanda saat itu, D.A Rinkes.

Sejak kongres di Yogyakarta itu, perhatian Samanhudi kepada Sarekat Islam mulai berkurang. Karena ia menganggap banyak penyimpangan yang terjadi dan tidak sesuai dengan tujuan awal Sarekat Islam didirikan. Sehingga ia tidak pernah hadir dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Sarekat Islam.

Akhirnya, Haji Samanhudi keluar dari Sarekat Islam dan menyudahi karir politiknya. Kemudian ia memilih untuk kembali menjadi pedagang seperti dulu. Walaupun begitu, ia masih berumur panjang untuk merasakan Kemerdekaan Indonesia hingga akhirnya ia wafat 28 Desember 1956 di Surakarta, di usianya yang ke 88 tahun.

Tinggalkan Komentar

Komentar Terbaru

  • VIEW NEWZ

    Very interesting news information that doesn't make you bored, especially the latest…

  • BERITA MANTUL

    One of the rare natural phenomena that will occur next month is…

  • 168NEWS

    Several central banks have begun considering raising interest rates to control rising…

  • Anoni

    jazakallah khairo untuk infaq 1jt nya barokallahufik

  • POS VIRAL

    This news is very interesting, the content is different and unusual, making…

Chat WhatsApp
Butuh Bantuan?
Selamat datang di Portal Berita Paradeshi. Untuk memudahkan pembaca dalam memahami beragam informasi yang kami sajikan, baik dalam bentuk berita ataupun artikel, seluruh konten yang dihadirkan kami kanalkan dalam beragam rubrik.

Silahkan menghubungi kami untuk mengetahui informasi lebih lanjut